Kejadian di Bukafe

Merasa terkungkung oleh ruangan kamar kost 4x4m dan bosan dengan kegiatan baca, ngetik, nonton dvd dan dengerin radio, aku memutuskan untuk menikmati kehidupan diluar rumah.
Tempat pertama yang terpikirkan adalah Bukafe, sebuah toko buku dengan konsep perpustakaan pribadi yang memberikan kenyamanan sekelas cafe yang affordable, sebuah tempat yang cukup representative terutama bagi aku yang tengah berjuang mensiasati cash flow keuangan. Maklumlah.....dalam kondisi jobless begini emang kita mesti dituntut untuk pintar-pintar mengatur pengeluaran.

Aku sengaja memilih tempat duduk yang paling pojok, secara aku memang tidak ingin terusik oleh mahluk manapun yang ada ditempat itu.

Hhmmm, sepertinya meja ini akan menjadi tempat favorit ku. Dari kejauhan, aku bisa melihat siaran tv yang sedang dinyalakan, meski suaranya tak terdengar, kalah oleh sound radio yang speaker nya berada tepat diatas kepalaku. Aku juga bisa melihat orang orang sekeliling dengan bebas tanpa merasa diperhatikan oleh orang lain. Ditambah dengan posisi meja yang menghadap lurus ke ruang internet, membuat aku tidak kerepotan untuk menerka nerka siapa yang bergiliran untuk berkehendak masuk ke ruangan itu.

Satu meja terlihat kosong, waktunya buat aku konek ke internet. Coba buka yahoo messenger, sapa tau ada teman yang sudi diajak chat ditengah tengah kesibukan meraka bekerja. Tidak ada, kecuali Mark Lee, salah satu mantan supplier ku dulu ketika masih bekerja di KQ.
Just say Hi.

Buka Jobs db dan beberapa link job hunter, gak ada yg sreg.

Sudahlah.....

Aku berjalan jalan mengitari ruangan, melihat lihat apakah ada buku yang menarik perhatianku untuk dibaca. Sebenarnya aku telah membawa buku sendiri. Tiga buah buku yang semuanya butuh konsentrasi penuh. “Nice Girls Dont Get the Corner Office, Speed Reading Better Recalling dan On Becoming Fearless” tapi sepertinya kali ini aku ingin membaca buku yang ringan ringan saja, semacam novel lokal gitulah...
well, mungkin pengaruh dari alunan musik yang agak mellow diruangan ini yang membuatku sedikit terbuai dalam romantisme (apa seehhh...).

Ditengah kegiatan pencarian buku dan kegelisahan pikiranku tentang kejelasan tawaran kerja dari sebuah perusahaan yang gak kunjung tiba itu, pandangan ku secara tidak sengaja tertuju pada tiga pria dalam satu meja yang tengah membahas sesuatu. Sepertinya mereka mahasiswa S2, mungkin kuliah di IPMI, karena cuma itu satu satunya tempat kuliah bergensi dan terdekat dari sini.

Salah satu dari mereka mendekatiku dan memperkenalkan diri alih alih mencoba membantu mencarikan buku yang ingin aku baca. Obrolan singkat pun berlangsung, dan benar saja, meraka semua adalah mahasiswa IPMI dan single (menurut versi mereka yang tentunya tidak layak untuk langsung percaya).

“sudah bekerja apa kuliah mbak ?” tanya Rio, salah satu personnel paling ceriwis dibanding dua lainnya.
“kerja, tapi lagi ambil cuti” kataku singkat. Aku tidak mau mengambil resiko untuk berbohong dengan mengatakan aku juga seorang mahasiswi S2 demi untuk menyetarakan kasta dengan mereka. Aku juga merasa tidak perlu menceritakan hikayat perjalanan hidupku yang sesungguhnya hingga aku mendapat gelar pengangguran saat ini.

“masih single ato sudah menikah ?” tanya temannya Rio yang aku gak inget siapa namanya. Phew, lagi lagi aku harus memberikan jawaban cerdas, bukan jawaban jujur yang bertendensi menimbulkan pertanyaan lanjutan yang lebih mengkerucut. “Engga” jawabku singkat tanpa berniat untuk memberikan informasi lebih banyak.

“kuliah angkatan berapa mbak ?”
mo tanya angkatan berapa apa tanya umur gw ? kata ku smashing.
“Hehehe, dua duanya, kalo boleh siy itu juga” kata temen satunya dengan nada hati hati.

Kenapa sih pria sangat concern dengan umur wanita ? kataku balik nanya.
Lha, kenapa pula wanita sangat sensitif ketika ditanyai mengenai umur ? katanya menyerang balik. Sebenernya nih mbak, usia merupakan salah satu dari lima keingintahuan utama orang indonesia-tidak hanya pria, setelah status perkawinan, agama, suku dan pekerjaan. Kalian saja para wanita yang terlalu melebih lebihkan esensi dari pertanyaan itu. Katanya membela diri.

......dan perdebatan intelek antara perbedaan gender pun dimulai. Diskusi semakin menjadi panjang dan tanpa sadar aku telah berada dimeja sekawanan pria itu dan berada dikursi tengah. Es capuccino dan pisang bakar ku pun ikut  berpindah tempat ke meja ini.

......Angkatan 97’ kataku mengalah.
Walah mbak....kalo dikampung gw nih, mbak tuh udah punya anak tiga !!! katanya sambil ngakak. Akupun ikut tertawa, meski cemberut didalam hati. Rasanya setelah itu tidak ada lagi yang ingin aku diskusikan dengan tiga orang gak guna ini. Tapi setelah aku pikir ulang, apa salahnya pendapat Rio tadi ? dia benar bahwa pada usia sekarang ini aku seharusnya paling engga telah memiliki satu momongan ato dua momongan sekaligus -kalo kebeneran anak gw lahirnya kembar- tapi kalo anak tiga mah belum lha yaaa.
Lagipula, kebanyakan temen temen gw yang udah nikah sejauh ini telah punya anak satu ato dua buah.

Kadang gw iri kepada mereka karena telah memiliki keluarga tempat mereka berbagi, bocah yang memberi mereka harapan pada kehidupan dan suami yang memberikan  cinta kasih sekaligus menjadi partner yang aman ditempat tidur. Tapi dari pengakuan mereka juga gw tau kalo mereka iri terhadap gw yang masih bisa luntang lantung dan manjadi diri sendiri, bebas menghabiskan sebagian besar waktu di kantor demi sebuah achievement pribadi atau sekedar kepuasan semata, yang bebas secara finansial menggunakan uang dari hasil sendiri tanpa harus meminta persetujuan dan pertimbangan kanan-kiri. 

mereka iri karena gw masih bisa melakukan itu semua padahal gw telah menyandang predikat MENIKAH.
Atau yang lebih tepatnya adalah, mereka memandang ada yang salah dengan format pernikahan gw ?

ah, itu semua berpulang kepada persepsi masing masing dalam memandang arti pernikahan itu sendiri.

Terlalu kompleks untuk dibahas.

Ketiga teman baruku ini, yang tahunya aku belum menikah, mulai menanyakan hal yang paling membuat wanita risih mendengarnya.
“umur segini kok belum menikah ?”
(kesannya gw udah uzur bangettt gitu lohhh)

Gubraaaakkkk.

“Ini Jakarta Bung, bukan kampung halaman lu. What the hell dengan pernikahan”. jawab gw ngasal. Kalo tadi gw bilang bahwa gw udah married, lu pada pasti gak bakal tanya kenapa umur segini udah menikah khaaaannnnnn ? yang ada malah timbul pertanyaan lain, kenapa kok belum punya anak ?????

Cape deeeeeeee.

Well, memang gak bisa dipungkiri, bagi kaum hawa di negeri ini pernikahan masih merupakan angka nol. Tidak menikah adalah minus dan mempunyai anak adalah plus yang merupakan kata lain dari perempuan sempurna.

Bahkan ada yang lebih ekstrim lagi. Pertanyaan sudah married atau belum lebih dikonotasikan dengan “sudah berhubungan sex atau belum?”

Parah banget khan ?

............... diskusi terus berlangsung.

Apa yang membuat orang manyamakan seks dengan perkawinan lalu menyempitkan seks menjadi persetubuhan dan arti seks menurut versi masing masing, manjadi bahan diskusi yang sangat menarik bagi kita berempat.
(tentunya diskusi ini sangat sarat dengan unsur unsur intelek yang disandang oleh tiga teman baruku ini yang membikin aku tidak tabu membahasnya meskipun perbedaan gender teteeeeeuuuupp menjadi dasar utama pembeda segalanya ).

Waktu telah menunjukkan pulul 16.45, gak kerasa aku telah menghabiskan waktu 4 ½ jam disini. Kita berpisah tanpa saling memberi no handphone karena kita lebih mengutamakan menggunakan intuisi daripada membikin janji pertemuan yang diatur oleh perangkat bernama handphone, secara kita juga pastinya punya alasan dengan versi masing masing untuk tidak saling memberi tahu no private itu.

Aku pulang ke kost dengan membawa satu pertanyaan dari pernyataan yang dilontarkan oleh Rio tadi :”definisi seks menurut gw adalah melakukan segala sesuatu yang mengakibatkan rangsangan pada organ seks. Sisanya cuma perkara teknik. Jadi, secara hakiki antara seks, cinta dan perkawinan tidak ada korelasi.

Jadi jangan heran kalo gw bisa melakukan tiga hal berbeda itu dengan parner yang berbeda pula.

Masa sih ???

Dunia memang sudah gila

Atau gw yang terlalu naif.

Entahlah......

Eh, merhatiin gak pernyataan dari Rio tadi ? kalo apa yang dia bilang itu bener dan tengah dia jalanin, berarti dia udah married donk ?
dasar pria memang tidak bisa dipercaya.
Mengaku bujangan kepada setiap wanita ternyata cucunya segudang (itumah lagunya Anggun jaman jadul kaleeee ).
Tapi gw juga sama denk, mengaku belum married dengan alasan yang bisa dipertanggung jawabkan tentunya. Hehehe.

Pria – wanita ternyata sama sajah.

Tetapi kenapa perbedaan gender itu selalu diperdebatkan yaaaa.... Au ah !!

Dilagu yang Sama

Dilagu yang sama

aku teringat lagi

segala kerianganku

bersamamu

Memandang tanpa berkedip

jemari saling bertaut

hati kita sama menyahut

Mendengar lagu yang sama

aku teringat kata katamu

“......no matter what, my trust, care and sacrifice is always for you“

Ditengah risau

yang belum bisa kuhalau

aku semakin rindu

~from this moment~

My Deep Inside

I want to tell you the truth

i want to tell you why i love you

i love you since i met you

but i wouldn't allow myself to trully feel it

i was always thinking ahead

making decision out of fear

tonight, because of what i learned from you

every choice i made was different

and my life has completely changed

and i'm learned that if you do that

you are living your life fully

it doesn't matter if you have five minutes or fifty years

Honey, if not for tonight, if not for you

i would never have known love at all

a pure love

unconditional love

so thank you for being the person who taught me to love

and to be loved

even for a short while

.........

i gotta move on

somewhereinthedark, 010107

Setelah Dari Bogor Minggu Lalu

Jangan pernah berubah, teman

terlalu indah untuk sekedar menjadi dewasa

menjadi ahli filsafat

atau untuk sebuah kemapanan

Demi masa lalu, demi masa depan

begitu yakinnya aku dengan persamaan persepsi pertemanan kita

setelah beribu ribu rencana untuk bertemu, ahirnya kesampaian juga

Membangun kembali kenangan lama, mengingat dan memaafkan

atau sekedar bergosip

menanyakan kabar, keseharianmu

menakar apa yang telah kita capai

atau omong kosong tentang mimpi yang gila

mengingatkanku lagi tentang prinsip enam pilar keseimbangan hidup yang sampai sekarang aku tidak tahu apakah pilar kelima dan keenam itu JJ

Atas nama pertemanan

mengiky lah lagi denganku

~setelahdaribogorminggulalu~

Kangenku tak pernah tandas

Ada kanak kanak dalam diriku

yang sering menghampirimu   

dalam kata manja                                                               

lalu engkau tertawa

: sebel...., katamu dengan senyum

Ketika yang dewasa datang    

hanya ada heran saja      

kenapa muncul kanak-kanak itu   

lalu dia diam saja mencoba mencari jawabnya

Ada Bapak dalam dirimu 

yang membuatku selalu rindu

sapa, omelan dan juga godaan mu

: kangen ku tak pernah tandas

Ada kanak kanak 

Ada orang dewasa 

Menghampirimu

: lalu kau rengkuh

  dalam pelukanmu

~ di lengkung alis matamu ~

~ LOVE ~

Apa sih cinta itu?
Benarkah seluruh daya hidup digerakkan olehnya?
Benarkah cinta sejati itu ada dan layak diperjuangkan dalam hidup?


Dulu aku percaya itu.
Cinta seperti yang dimiliki Tuhan, bagai proses emanasi yang takkan berhenti.

Cinta yang membuat kita eksis.

Cinta yang membuktikan kepenuhan diri dengan memberi tanpa pamrih.

Cinta yang menguatkan, memberi daya dorong, semangat.

Cinta yang melahirkan kesetiaan, meski tak berbalas sekali pun.

Cinta yang menyebabkan kegilaan, bisa ada airmata hanya karena rindu atau menerbitkan energi sprint untuk menyelesaikan segudang pekerjaan hanya dengan menaruh photonya di samping monitor PC.

(Hua ha ha...konyol)

Cinta yang juga mengakibatkan kebutaan, kenaifan maha dahsyat, karena si dia menjadi terlalu istimewa.

(Please deh ly, mana ada manusia tanpa kekurangan?)

Ternyata...
Untuk makhluk senisbi manusia, cinta yang bisa dimilikinya pun nisbi saja.

Hm…. mungkin cinta itu lebih digerakkan oleh momentum yang tepat. Momentum ketika satu hati yang siap menerima dan memberi, menemukan objek yang menarik.

Momentum itu menjadi sempurna tentu, bila ternyata ada dua hati yang terlibat di situ.
That's it !!!!


Karena ternyata...
Ketika momentumnya berlalu, cinta pun berubah, mungkin beralih. Objek cinta bisa jadi tak menarik lagi ketika keseluruhan diri kemudian dipenuhi pengalaman dan pembelajaran baru. Maka jangan terlalu masygul bila kau merasa malu pernah mencintai orang yang ternyata belakangan ketahuan sikapnya, integritasnya tak membanggakan. Karena toh, ada suami yang dulu setengah mati mencintai istrinya namun ketika kerut-kerut hadir di wajah (keduanya, tentu), atau ketika istrinya kini hanya berdiam dirumah, mendedikasikan hidup untuk anak-anaknya dan entah tidak punya waktu untuk mengurus dirinya untuk menjaga kebugaran, kecantikan dan pesona yang selama ini digilai oleh suaminya dulu hingga waktu berlalu begitu saja, dia bingung mencari cinta yang dulu membakar hatinya.

Bila ternyata dalam kenisbiannya manusia dapat memelihara cinta sepanjang usia, mungkin karena dia memelihara momentum jatuh cinta itu. Dan pastinya karena cukup worthed untuk dipelihara.

Entah karena komitmen atau perjalanan cinta itu membuatnya makin berharga. Pengalaman, pembelajaran dan waktu-waktu berharga yang dilalui bersama.

Akhirnya...
Apa sih cinta itu?
Marx pasti juga menyebutnya sejenis opium.
Jung jelas mengatakan sepenuhnya menunjukkan gejala ' The Madness'.

Hm….. percayalah pada cinta karena bila tak memilikinya hidupmu terasa tak berharga.

Tapi jangan berharap dia abadi.

Cinta hanya bisa sangat dalam --sampai menghisap seluruh semangat hidup-- dan hanya abadi dalam film-film, terutama film

Korea

.

Kalau begitu yuk, nonton film

Korea

saja! :-)

HAPPY NEW YEAR 2007 (^_^)

Pakabar ???

Sobat, apa kabarmu di sana? Sekian tahun terpisah oleh jarak, bukankah tak pernah kita benar-benar berpisah...

Ada email

ada sms

ada telpon.

Dan bukankah hati kita tetap dekat? :-)

Dulu, perkenalan kita diawali oleh tanyaku yang tergesa karena merasa terlambat, ujiannya belum dimulai yah? Belakangan kau bilang, untung aku menegur lebih dulu waktu itu karena sulit bagimu untuk memulai percakapan denganku.

Masa sih? Heranku tak habis pikir. Katamu lagi, aku tipe perempuan yang menimbulkan rasa segan. Seolah selalu punya banyak tujuan dengan apa yang kulakukan dan karenanya bahasa tubuhku berkata, jangan coba-coba mengusik dengan hal tak penting. Ha ha.... ada-ada saja.

Tapi mungkin ada benarnya, buktinya setiap kali aku pulang larut malam sehabis jaga wartel atau keluyuran gak jelas malam malam, tak ada orang iseng yang berani jail. Aman... :-)

Sejak itu kau adalah sahabat terbaikku. Kau mengenal dan memahamiku dengan sangat baik, begitu pun sebaliknya. Walau kadang pengenalanmu tentangku membuatku heran; oya, aku begitu? Ha ha... Aku sadar, kadang perlu orang lain untuk menilai diri kita. Dan seorang sahabat adalah yang terbaik untuk itu, yang akan mengatakan sejujurnya juga hal yang tak ingin kita dengar.

Kedekatan kita juga sempat membuat teman kampus berkasak-kusuk. Ingat? Kita sempat dinilai sebagai pasangan aneh. Andai mereka tahu, kamu justru pernah menjadi kurir ketika aku mengirim puisi pada seorang cowok yang juga dinilai sebagai orang aneh, tapi justru itu malah membuat aku tertantang untuk benar benar membentuk suatu perkumpulan orang aneh. Ha ha...heran juga, aku pernah sekonyol itu, ya...

atau waktu aku meminta kamu untuk mengatur supaya aku tidak pernah bertemu dengan pria yang kurang menyenangkan itu, eh kamu malah merancang pertemuan dengan nya berkali kali sambil berkata : dia pria yang tepat untuk jadi suami mu (Hah...)

Kamu benar, meski aku sempat keras kepala, waktu akhirnya membuktikan kalau kamu benar, sobat. Dia benar benar menjadi suami ku sekarang (Phew...)

Kau tahu, ada masa ketika aku rindu sekali berbincang bebas denganmu, tanpa dibatasi pulsa! :-)

Bukankah kita biasa mendiskusikan apa saja dulu?

Kita pernah merumuskan apa yang harus kita capai dalam hidup, kita berdebat, menyisihkan hal yang tak perlu dan bersepakat. Kita juga pernah mendiskusikan fakta-fakta kehidupan yang sering disalahtafsirkan, atau mencari kemungkinan penafsiran baru. Kita pun pernah membincangkan; apa ya, yang sedang dilakukan Tuhan saat ini?

Biasanya menjelang ahir tahun, entah siapa yang mulai menelepon- itu sudah bukan hal penting lagi buat kita- kita selalu membahas achievement, planning, dan the craziest things selama setahun ini. Point terahir biasanya yang paling lama kita bahas, hahahaha.

Mungkin benar, sobat, kau adalah saudaraku dalam kehidupan sebelumnya. Kita takkan pernah menjadi pasangan karenanya, tapi kau tahu yang lebih berarti?

Menyadari aku memiliki sahabat sepertimu.

Andai aku harus menempuh hidup ini sendiri tanpa seorang pun mendukung pilihan keputusanku, aku tahu, aku bisa mengandalkanmu...

I MISS U

Bintang dan Kegelapan

Kadang-kadang ketika malam tiba, aku sering berpikir sambil memandang bintang dan kegelapan di atas sana. Mana yang lebih berarti dari mereka? Bintang? Atau kegelapan? Pikiranku nakal melompat-lompat seperti bocah ingusan bermain dalam hujan. Barangkali bintang itu tak memerlukan kegelapan karena apapun yang terjadi bintang tetaplah bintang, bersinar karena punya kemampuan mengeluarkan cahayanya sendiri (meski tak dapat terlihat pada siang hari karena matahari yang angkuh itu). Kupikir kegelapan tak memerlukan bintang untuk membuatnya lebih berarti. Kegelapan, membuat kita menghargai sekecil apapun cahaya.

Kemudian aku beralih memikirkan dia. Seorang laki-laki yang yang tanpa terasa hampir memasuki tahun pertama dalam hidupku. Seorang laki-laki biasa yang kutemui tanpa peristiwa yang luar biasa. Semakin bertambahnya hari menjadikan hal yg biasa jika ia semakin dekat dengan denganku dan ahirnya menjadi suamiku. Ya... mungkin karena aku membiarkannya masuk begitu saja.

Lazimnya aku memikirkan dia saat perjalanan menuju kantor, sedikit waktu dikala jam kerja dan semenit menjelang tidur. Kadang-kadang aku menelepon, mengirimi sms atau membalas memo yang kadang dia tuliskan di meja kerja rumah ku. Tapi kali ini lain. Aku sangat memikirkannya. Bukan karena aku kangen padanya, tapi karena sms yang dia kirim pagi ini. Aku tak tahu harus menjawab apa....

Aku mencintainya? Mungkin iya. Aku menerima segala kelebihan dan kekurangannya, memberinya semangat dan perhatian, menemaninya. Setidaknya aku ingat tanggal kelahirannya, hobinya, teman-teman dekatnya dan lain-lain.

Tapi pertanyaannya sekarang adalah bagaimana aku mencintainya? Seberapa besar?

Itu juga sungguh tak bisa kumengerti, segalanya berjalan begitu saja seperti orang yang menjalani hidup tanpa achievement.

Kadang aku suka membayangkan diriku seperti Xena, cewek jagoan yang perkasa dan berani menghadapi lawan-lawannya seorang diri, bukan karena bangga memutar-mutar pedang, melempar cakram dan menendang lawan-lawannya yang kebanyakan kaum adam, tapi dari kemampuanku bertahan hidup dan tetap tegar menjalani hidup ini.

Mandiri menghidupi diri sendiri.

Berpikir kembali tentang Xena, tentang “the independent woman”, menimbulkan pertanyaan “kenapa aku menikah?” dan berlanjut berpikir tentang alasan kebanyakan orang memilih menikah daripada melajang.

Karena cinta? Bagaimana kalau suatu saat nanti aku tak lagi mencintainya? Atau dia yang tidak mencintaiku?

Karena kesamaan minat? Kalau suatu hari nanti ada berbedaan pendapat dan tak lagi sejalan, apakah perkawinan itu tetap dapat dipertahankan?

Karena aku membutuhkannya? Sebagai apa? Pelindung? Bodyguard? yang akan menjagaku dari segala marabahaya? Sebagai suami yang memberiku nafkah lahir dan batin ? atau hanya sekedar pemuasan kebutuhan “itu”? atau karena hutang budi ?

Entahlah.... kini aku seperti berada dipersimpangan. Ketika segalanya mulai berjalan menuju perbaikan (setidaknya aku berfikir begitu), aku kembali diingatkan akan hutang budi itu, yang membuatku STUCK to the corner !

Tapi sebenarnya ’Hutang’ itu sendiri bisa tidak dijadikan sebagai ‘Hutang’ ketika kita memberikannya dengan suka cita, tentunya kepada orang yang kita cintai. Namun, ketika dia merasakan ada ketimpangan antara apa yang sudah dia berikan dengan apa yang dia dapat, maka dia mulai mencari kebenaran akan hukum hutang piutang.

Phew... Sesungguhnya aku tidak ingin segalanya menjadi kacau seperti ini.

Sungguh, Aku hanya punya satu keinginan : dicinta dan mencinta – dua hal yang menjadi satu, BUKAN salah satunya. Karena dengan begitu tidak akan ada istilah utang piutang, tidak ada balas budi, tidak ada keterpaksaan. Semua yang kita lakukan atas dasar cinta, kasih dan penuh keihlasan dari kedua pihak yang saling mencinta.

Karena pada dasarnya Tuhan menciptakan kita berpasang pasangan, yang berarti kita tidak diciptakan untuk sendirian. Bahkan seorang Xena pun butuh pendamping.

Aku membutuhkan pria, tepatnya pria yang benar benar aku cintai dan juga mencintaiku.

Dimana ketika aku lelah dan kesal dengan beban pekerjaan dan orang-orang yang menyebalkan yang sering menikamku dari belakang seperti pengecut berwajah malaikat ada dia yang selalu menghiburku, menyayangiku dengan kasihnya yang berlimpah, yang memberiku beragam petuah yang dengan suka cita selalu kuturuti. yang juga bisa seperti seorang teman baik mendengarkan keluhanku, memberiku solusi dan kadang materi.

Yang aku bisa setengah mati merindukannya, menelponnya, mengiriminya sms, email, puisi seolah aku gadis ingusan baru berumur tujuh belas yang sedang jatuh cinta untuk pertama kali.

Aku akan dengan rela mengabaikan kegiatan rutin ’konkow’ dengan teman temanku atau siapapun didunia ini dengan memilih menghabiskan waktu dengannya : berdiskusi, membaca buku dan puisi atau sekedar jalan-jalan.

Segala hal terasa begitu indah.... bahkan hal yang biasapun terasa luar biasa ketika bersamanya. Tak berhenti berfikir apa lagi yang bisa aku berikan untuk bisa membahagiakannya, melayaninya dengan sepenuh hati, mendedikasikan hidup hanya untuknya.

Tak ada perhitungan hutang piutang, karena segala hal yang dilakukan semua atas dasar cinta, kasih, sayang dan penuh keihlasan dari kedua pihak yang saling mencinta.

What a wonderful life....

KQ081206

Aksara Rasa

mula-mula adalah huruf
potongan garis yang mengadakan tulisan
ketika aku berbicara;
rongrongan naluri memekakkan telinga, dengan bahasa hati yang tak kumengerti

lalu kata...

hingga malam ini aku menjadi seorang pencinta yang mengembara dalam tubuhku
mencari sasana untuk kutitipkan cahaya rahasia entah pada siapa

mungkinkah ada cara lain menyatakan cinta yang tak biasa ini?

dibalik matahari yang bersembunyi dalam kamar keheningan

aku coba menemukan nama untuk teman sendiriku;

bersama pena dan kertas yang kelak akan menjadi lembaran puisi untukmu

meski kasat mata, yang tertulis adalah rangkaian rasa dalam aksara bermakna, lebih indah dari percakapan para dewa sekalipun
lalu sebelum terlelap,

kusempatkan membaca lirik lirih sajak senja langit yang teduh

agar tak lupa semua asa ketika menjauh

untukmu

myblueweekend

Breathe in Water

Somehow the days and the nights are all the same. I can’t tell the time I forget their names when I am without you and I’m spinning around like satellite with daze in my head I can’t abide when I’m away from you.

To show how much you mean to me I’d give up my gravity I’d walk the surface of the sea to find where you would be

I’d breathe in water and drown myself in you, I’d breathe in water and dive myself in you, I’d breathe in water If you ask me to breathe in water

Somehow I feel so lost with a homeless heart. I’ve nowhere to run, I’ve nowhere to hide when I’m missing you but I chase the dark clouds from my eyes send them away like butterfly when I think about you

To show how much you mean to me I’ve erased my memory to walk the surface of the sea to be where you would be

This is what I can do, what a woman can do. This all that I feel is real. This is what I have prayed for this love in my way

I breathe in water

Can breathe in water

(Anggun)