Bintang dan Kegelapan
Kadang-kadang ketika malam tiba, aku sering berpikir sambil memandang bintang dan kegelapan di atas sana. Mana yang lebih berarti dari mereka? Bintang? Atau kegelapan? Pikiranku nakal melompat-lompat seperti bocah ingusan bermain dalam hujan. Barangkali bintang itu tak memerlukan kegelapan karena apapun yang terjadi bintang tetaplah bintang, bersinar karena punya kemampuan mengeluarkan cahayanya sendiri (meski tak dapat terlihat pada siang hari karena matahari yang angkuh itu). Kupikir kegelapan tak memerlukan bintang untuk membuatnya lebih berarti. Kegelapan, membuat kita menghargai sekecil apapun cahaya.
Kemudian aku beralih memikirkan dia. Seorang laki-laki yang yang tanpa terasa hampir memasuki tahun pertama dalam hidupku. Seorang laki-laki biasa yang kutemui tanpa peristiwa yang luar biasa. Semakin bertambahnya hari menjadikan hal yg biasa jika ia semakin dekat dengan denganku dan ahirnya menjadi suamiku. Ya… mungkin karena aku membiarkannya masuk begitu saja.
Lazimnya aku memikirkan dia saat perjalanan menuju kantor, sedikit waktu dikala jam kerja dan semenit menjelang tidur. Kadang-kadang aku menelepon, mengirimi sms atau membalas memo yang kadang dia tuliskan di meja kerja rumah ku. Tapi kali ini lain. Aku sangat memikirkannya. Bukan karena aku kangen padanya, tapi karena sms yang dia kirim pagi ini. Aku tak tahu harus menjawab apa….
Aku mencintainya? Mungkin iya. Aku menerima segala kelebihan dan kekurangannya, memberinya semangat dan perhatian, menemaninya. Setidaknya aku ingat tanggal kelahirannya, hobinya, teman-teman dekatnya dan lain-lain.
Tapi pertanyaannya sekarang adalah bagaimana aku mencintainya? Seberapa besar?
Itu juga sungguh tak bisa kumengerti, segalanya berjalan begitu saja seperti orang yang menjalani hidup tanpa achievement.
Kadang aku suka membayangkan diriku seperti Xena, cewek jagoan yang perkasa dan berani menghadapi lawan-lawannya seorang diri, bukan karena bangga memutar-mutar pedang, melempar cakram dan menendang lawan-lawannya yang kebanyakan kaum adam, tapi dari kemampuanku bertahan hidup dan tetap tegar menjalani hidup ini.
Mandiri menghidupi diri sendiri.
Berpikir kembali tentang Xena, tentang “the independent woman”, menimbulkan pertanyaan “kenapa aku menikah?” dan berlanjut berpikir tentang alasan kebanyakan orang memilih menikah daripada melajang.
Karena cinta? Bagaimana kalau suatu saat nanti aku tak lagi mencintainya? Atau dia yang tidak mencintaiku?
Karena kesamaan minat? Kalau suatu hari nanti ada berbedaan pendapat dan tak lagi sejalan, apakah perkawinan itu tetap dapat dipertahankan?
Karena aku membutuhkannya? Sebagai apa? Pelindung? Bodyguard? yang akan menjagaku dari segala marabahaya? Sebagai suami yang memberiku nafkah lahir dan batin ? atau hanya sekedar pemuasan kebutuhan “itu”? atau karena hutang budi ?
Entahlah…. kini aku seperti berada dipersimpangan. Ketika segalanya mulai berjalan menuju perbaikan (setidaknya aku berfikir begitu), aku kembali diingatkan akan hutang budi itu, yang membuatku STUCK to the corner !
Tapi sebenarnya ’Hutang’ itu sendiri bisa tidak dijadikan sebagai ‘Hutang’ ketika kita memberikannya dengan suka cita, tentunya kepada orang yang kita cintai. Namun, ketika dia merasakan ada ketimpangan antara apa yang sudah dia berikan dengan apa yang dia dapat, maka dia mulai mencari kebenaran akan hukum hutang piutang.
Phew… Sesungguhnya aku tidak ingin segalanya menjadi kacau seperti ini.
Sungguh, Aku hanya punya satu keinginan : dicinta dan mencinta – dua hal yang menjadi satu, BUKAN salah satunya. Karena dengan begitu tidak akan ada istilah utang piutang, tidak ada balas budi, tidak ada keterpaksaan. Semua yang kita lakukan atas dasar cinta, kasih dan penuh keihlasan dari kedua pihak yang saling mencinta.
Karena pada dasarnya Tuhan menciptakan kita berpasang pasangan, yang berarti kita tidak diciptakan untuk sendirian. Bahkan seorang Xena pun butuh pendamping.
Aku membutuhkan pria, tepatnya pria yang benar benar aku cintai dan juga mencintaiku.
Dimana ketika aku lelah dan kesal dengan beban pekerjaan dan orang-orang yang menyebalkan yang sering menikamku dari belakang seperti pengecut berwajah malaikat ada dia yang selalu menghiburku, menyayangiku dengan kasihnya yang berlimpah, yang memberiku beragam petuah yang dengan suka cita selalu kuturuti. yang juga bisa seperti seorang teman baik mendengarkan keluhanku, memberiku solusi dan kadang materi.
Yang aku bisa setengah mati merindukannya, menelponnya, mengiriminya sms, email, puisi seolah aku gadis ingusan baru berumur tujuh belas yang sedang jatuh cinta untuk pertama kali.
Aku akan dengan rela mengabaikan kegiatan rutin ’konkow’ dengan teman temanku atau siapapun didunia ini dengan memilih menghabiskan waktu dengannya : berdiskusi, membaca buku dan puisi atau sekedar jalan-jalan.
Segala hal terasa begitu indah…. bahkan hal yang biasapun terasa luar biasa ketika bersamanya. Tak berhenti berfikir apa lagi yang bisa aku berikan untuk bisa membahagiakannya, melayaninya dengan sepenuh hati, mendedikasikan hidup hanya untuknya.
Tak ada perhitungan hutang piutang, karena segala hal yang dilakukan semua atas dasar cinta, kasih, sayang dan penuh keihlasan dari kedua pihak yang saling mencinta.
What a wonderful life….
KQ081206
December 9th, 2006 at 8:02 am
Bila Cinta
Memanggilmu
Kau ikuti kemana
ia pergi
walau jalan
terjal berliku
Walau perih
slalu menunggu
Cintamu butakan
matamu dan hatimu
harusnya cintamu
buka pintu kalbumu
Cinta adalah misteri
kita hanya manusia
tak berdaya melawan
takdir sang Raja Manusia
(tlah terlukis di Langit)
Jika sayapnya merangkulmu
dan pisau tajam siap melukai
Cinta adalah misteri *Dewa
December 10th, 2006 at 6:34 am
Who do you think you see
When you look at me
Is it somebody strong?
Somebody you could admire?
And who do you think I am?
When ‘I take your hand’
Are you counting on me
To fill your dreams and your desires
Well all I am…
Is ‘lonely’ (just) like you
All I wanna do
Is have one dream come true
All I am is handing you my heart
And hoping to be part of you
Who do you think you are
Standing in the dark
Are you waiting for me
Why can’t I reach you from here
And how do I get to you(?)
Won’t you let me through
Don’t you think maybe we
Have something special to be shared(?)
All I am - Heatwave